
SAMARINDA//MEDIATNIPOLRI.ID – Jalan yang tidak mudah dilalui dan akses yang terbatas bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Pesan itu yang dibawa Ketua Cabang PSTD Persatu 79 Samarinda, Kapten Inf Imam Nawawi, saat mengunjungi latihan anak-anak silat di salah satu lokasi pembinaan Ranting Sungai Kunjang, tepatnya di kawasan Loa Kumbar, Rabu malam (17/6/2026).
Di tengah latihan yang berlangsung sederhana, Imam yang juga menjabat sebagai Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 091/ASN memilih tidak hanya melihat gerakan dan kesiapan teknik para peserta. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan anak-anak yang direncanakan mengikuti ajang kejuaraan pencak silat di Samarinda pada pertengahan Juli tahun ini.
Namun bagi Imam, persiapan menuju pertandingan tidak hanya soal kemampuan bertanding. Ia justru menaruh perhatian lebih besar pada hal yang menurutnya menjadi pondasi utama keberhasilan: mental.
Loa Kumbar sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang aksesnya masih cukup menantang. Untuk menuju lokasi tertentu, perjalanan harus melewati jalur yang tidak mudah dan pada beberapa titik akses masih mengandalkan perahu ketinting kecil.
Bagi Imam, kondisi tersebut bukan sesuatu yang harus dijadikan alasan untuk membatasi mimpi.
Di hadapan para peserta latihan, ia menyampaikan bahwa latar belakang dan kondisi tempat tinggal tidak boleh menjadi batas bagi anak-anak untuk meraih cita-cita.
“Kalau saya selalu bilang, ada tiga yang nggak boleh dibolak-balik. Pertama mental, kedua fisik, baru teknik. Orang fisiknya bagus seperti apa pun, tekniknya pintar seperti apa pun, kalau mentalnya sudah kena, semuanya susah jalan,” ujarnya.
Menurut Imam, fisik dapat dilatih dan teknik dapat dipelajari. Tetapi mental menjadi penentu apakah seseorang mampu terus melangkah saat dihadapkan pada tantangan.
Karena itu, dalam setiap pembinaan yang dilakukan melalui pencak silat maupun saat memberikan motivasi kepada anak-anak, hal pertama yang dibangun adalah cara berpikir dan kekuatan hati.
“Yang pertama saya bentuk itu mentalnya dulu. Anak-anak harus punya mimpi dan jangan gampang menyerah. Kalau mentalnya sudah terbentuk, kemungkinan berhasil itu lebih besar,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa mental bukan sekadar keberanian bertanding, tetapi kondisi jiwa seseorang saat menghadapi persoalan dalam perjalanan menuju tujuan yang ingin dicapai.
Di tempat latihan itu, Imam mengingatkan anak-anak bahwa kondisi wilayah yang terpencil justru dapat menjadi sumber kekuatan.
“Saya bilang ke mereka, dalam kondisi apa pun, dari mana pun asalnya, itu bukan penghalang untuk meraih mimpi dan mencapai sukses. Justru kondisi terpencil itu tantangan yang harus dihadapi. Dari situlah mereka dapat kekuatan untuk meraih keberhasilan dalam hidup,” ungkapnya.
Bagi Imam, anak-anak di daerah dengan akses terbatas sering kali memiliki modal besar berupa daya juang dan kemampuan bertahan. Tinggal bagaimana mental itu diarahkan agar menjadi energi positif untuk berkembang.
Di arena latihan sederhana di Loa Kumbar malam itu, anak-anak tidak hanya belajar tentang pukulan, langkah, dan teknik.
“Mereka sedang belajar bahwa mimpi tidak ditentukan oleh seberapa dekat seseorang dengan kota, tetapi oleh seberapa kuat seseorang bertahan dan terus berjalan meski jalannya tidak selalu mudah,” pungkasnya.
Penulis: GB


Tinggalkan Balasan