KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Haul Guru Sekumpul merupakan acara keagamaan tahunan untuk memperingati wafatnya ulama kharismatik Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang lebih dikenal sebagai Guru Sekumpul.

Kegiatan ini dilaksanakan setiap tanggal 5 Rajab dalam kalender Hijriah dan berpusat di Mushala Ar-Raudhah Sekumpul, Martapura.

Haul ini dikenal sebagai salah satu majelis dzikir terbesar di dunia, dengan kehadiran jamaah yang mencapai jutaan orang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Ribuan relawan dan masyarakat lokal terlibat aktif dalam penyelenggaraan, mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan kecintaan umat kepada sang guru.

Guru Sekumpul memiliki nama lengkap K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari, seorang ulama besar asal Martapura yang dikenal luas karena keilmuan, akhlak, serta karomahnya.

Beliau wafat pada 5 Rajab 1426 Hijriah atau 10 Agustus 2005 dan meninggalkan pengaruh besar dalam perkembangan dakwah Islam di Kalimantan Selatan dan Nusantara.

Keistimewaan Haul Guru Sekumpul terletak pada skalanya yang masif serta nuansa spiritual yang kental. Acara ini tidak hanya dihadiri umat Muslim, tetapi juga menarik perhatian masyarakat lintas agama sebagai bentuk penghormatan.

Rangkaian kegiatan utama meliputi pembacaan Maulid Al-Habsyi, dzikir, dan doa bersama yang dipimpin oleh putra-putra beliau, H. Ahmad Hafi Badali dan H. Muhammad Amin Badali.

Selain kegiatan inti, masyarakat Banjar turut menyediakan berbagai fasilitas gratis bagi jamaah, seperti dapur umum dengan hidangan khas Nasi Samin, penginapan, layanan kesehatan, keamanan, hingga servis kendaraan.

Rumah warga, masjid, dan mushala pun disulap menjadi tempat istirahat sementara bagi para peziarah.

Fenomena unik dalam pelaksanaan haul ini adalah kemungkinan digelarnya dua kali dalam satu tahun Masehi, akibat pergeseran kalender Hijriah, seperti yang terjadi pada tahun 2025.

Hal tersebut semakin menegaskan besarnya antusiasme dan kesiapan masyarakat dalam menyambut haul Guru Sekumpul.

Haul Guru Sekumpul bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum spiritual untuk meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW, memperkuat keimanan, serta menjaga nilai kebersamaan dan persaudaraan umat.
(Tbk)