PALANGKA RAYA, MEDIATNI-POLRI.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar Konferensi Pers Berita Resmi Statistik (BRS) di Ruang Vicon BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Jalan Kapten Pierre Tendean, Kota Palangka Raya, Selasa (2/6/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 13.10 WIB tersebut dihadiri jajaran BPS, perwakilan organisasi perangkat daerah, insan media, serta sejumlah undangan lainnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah beserta jajaran, di antaranya Sekretaris BPS, Kepala Bagian Umum, Kepala Bidang Statistik Sosial, Kepala Bidang Statistik Produksi, dan Kepala Bidang Statistik Distribusi.

Turut hadir perwakilan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Ketahanan Pangan, serta media cetak dan online dengan jumlah peserta sekitar 30 orang.

Dalam paparannya, Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan sejumlah indikator strategis daerah, khususnya terkait perkembangan ekspor dan transportasi udara.

Pada sektor ekspor, BPS mencatat bahwa komoditas unggulan Kalimantan Tengah masih didominasi oleh bahan bakar mineral berupa batubara dan lignit dengan nilai ekspor mencapai US$892,37 juta atau 72,58 persen dari total ekspor selama Januari hingga April 2026.

Posisi kedua ditempati minyak kelapa sawit dengan nilai ekspor US$271,70 juta atau 22,10 persen, disusul komoditas kayu dan produk turunannya yang berkontribusi sebesar US$26,50 juta atau 2,16 persen.

Berdasarkan negara tujuan ekspor, Jepang menjadi pasar utama dengan nilai ekspor mencapai US$390,61 juta atau 31,77 persen dari total ekspor Kalimantan Tengah.

Komoditas yang diekspor ke Jepang meliputi hasil hutan kayu, kayu lapis, kayu tipis, serta bijih dan konsentrat logam.

India menempati posisi kedua dengan kontribusi sebesar 27,41 persen atau senilai US$336,99 juta. Komoditas utama yang diekspor ke negara tersebut antara lain minyak kelapa sawit, batubara, bijih zirkonium, dan karet alam.

Sementara itu, Korea Selatan berada di urutan ketiga dengan kontribusi 9,23 persen atau senilai US$113,47 juta yang didominasi oleh ekspor batubara dan berbagai produk kayu.

Dari sisi pelabuhan muat, sebesar 25,97 persen nilai ekspor Kalimantan Tengah atau senilai US$319,32 juta dilakukan melalui pelabuhan yang berada di wilayah provinsi tersebut.

Pelabuhan Kumai menjadi pelabuhan utama dengan kontribusi mencapai 89 persen dari total ekspor melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah.

Sementara itu, sebagian besar ekspor yang dilakukan melalui pelabuhan luar daerah masih didominasi melalui Pelabuhan Banjarmasin dengan kontribusi sebesar 80,40 persen.

Selain sektor ekspor, BPS juga memaparkan perkembangan transportasi udara di Kalimantan Tengah.

Pada April 2026, frekuensi penerbangan tercatat sebanyak 1.472 penerbangan atau mengalami penurunan sebesar 11,86 persen dibandingkan Maret 2026.

Meski demikian, jumlah penerbangan tersebut relatif stabil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bandar Udara Tjilik Riwut di Palangka Raya masih menjadi pusat utama aktivitas transportasi udara penumpang dan barang di Kalimantan Tengah.

Pada April 2026, sebanyak 50,73 persen penumpang dilayani melalui bandara tersebut.

Sementara itu, Bandar Udara Iskandar di Pangkalan Bun melayani 34,34 persen penumpang, dan Bandar Udara H. Asan di Sampit melayani 11,27 persen penumpang.

Sisanya tersebar di sejumlah bandara lainnya di wilayah Kalimantan Tengah.

Konferensi pers yang berlangsung hingga pukul 14.30 WIB tersebut berjalan aman dan lancar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya BPS Provinsi Kalimantan Tengah dalam menyebarluaskan data statistik resmi yang akurat, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Melalui Berita Resmi Statistik, BPS berharap berbagai data dan indikator strategis yang dipublikasikan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam memahami perkembangan ekonomi dan sosial di Kalimantan Tengah serta mendukung pengambilan kebijakan yang berbasis data.
(BHL)