KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diketahui terjadi di wilayah Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sejak 3 Agustus 2026.

Camat Seranau Dwi Kushendro, mengatakan, api awalnya muncul dari sisi jalan sebelum kemudian merambat ke lokasi lainnya.

“Awalnya pada tanggal 3 Agustus 2026 terjadi kebakaran di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, tepatnya di Sekunder 3, lokasi milik warga atas nama Egon. Api dari pinggir jalan kemudian merambat ke lokasi lain,” kata Dwi Kushendro, Sabtu (15/8/2026).

Menurutnya, untuk menangani kebakaran tersebut, Forkopimcam Seranau bersama unsur terkait turun langsung melakukan pemadaman dan pengawasan di lapangan.

Tim tersebut melibatkan pihak kecamatan, perwakilan Polsek Ketapang melalui Panit Binmas Polsek Ketapang Ipda Prasetyo, perwakilan Koramil melalui Babinsa Nur Sudiono, pihak ketiga yaitu PT Rimba Makmur Utama (RMU), serta tim lainnya.

Selain itu, penanganan juga melibatkan grup RSA, unsur kedamangan dan Batamad. Pelibatan berbagai unsur tersebut dilakukan karena eskalasi kebakaran dinilai cukup besar.

“Namun, kebakaran ini belum masuk ke wilayah konsesi PT Rimba Makmur Utama (RMU). Kami sangat berterima kasih karena pihak RMU tetap memberikan support kepada kami meskipun lokasi kebakaran ini tidak masuk wilayah konsesi mereka,” ujarnya.

Dwi menjelaskan, pemantauan dan pemadaman terus dilakukan, baik melalui jalur darat maupun udara. Dari udara, dukungan water bombing dilakukan oleh BNPB dan Polda Kalimantan Tengah untuk membantu mempercepat proses pemadaman.

“Kegiatan hari ini kami melakukan pemantauan wilayah yang terbakar dan upaya pemadaman, terutama dari darat. Sedangkan dari udara ada water bombing dari BNPB dan Polda Kalteng. Semoga dukungan dua water bombing ini bisa membantu memadamkan api,” katanya.

Tim di lapangan juga melakukan penyisiran terhadap titik-titik api untuk mencegah kebakaran merambat ke lokasi lainnya.

Dalam proses pemadaman, lanjut Dwi, petugas menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi geografis wilayah dan keterbatasan prasarana air.

Jarak antara lokasi kebakaran dengan akses menuju sumber air juga cukup jauh sehingga menyulitkan proses pemadaman.

“Kesulitan tim di lapangan adalah kondisi geografis wilayah dan prasarana air, kemudian pencapaian lokasi kebakaran serta sumber air yang sangat jauh,” jelasnya.

Terkait dugaan adanya pihak yang sengaja melakukan pembakaran, Dwi mengatakan proses penyelidikan telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

“Sementara untuk terduga pelaku pembakaran, penyelidikannya sudah kita serahkan sepenuhnya kepada pihak Polsek Ketapang,” tegasnya.

Dwi menambahkan, ke depan pihaknya akan terus meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan karhutla di Desa Batuah.

Sosialisasi kepada masyarakat akan terus dilakukan, disertai pengecekan kesiapsiagaan seluruh perangkat desa dan regu siaga api.

“Kami akan terus mengadakan sosialisasi dan mengecek kesiapsiagaan seluruh perangkat serta regu siaga api yang ada di desa-desa, mulai dari pompa air, selang, sampai dengan embung atau sumber air yang tersedia,” pungkasnya.

Sementara itu, Panit Binmas Polsek Ketapang Ipda Prasetyo mengatakan, dalam penanganan karhutla tersebut, tim Satgas Polsek Ketapang melibatkan seluruh anggota Bhabinkamtibmas.

“Tim Satgas kami dari Polsek Ketapang melibatkan seluruh Bhabinkamtibmas,” kata Prasetyo.

Ia menyebutkan, personel yang membackup kegiatan Satgas di lapangan antara lain Bhabinkamtibmas Desa Batuah Aiptu Erfandi Dani, Bhabinkamtibmas Kelurahan Mentaya Seberang Aiptu Muhammad Risky, dan Bhabinkamtibmas Desa Terantang Aipda Umbu Kuta.

Ketiga personel tersebut bersama unsur gabungan lainnya terus melakukan pemantauan dan membantu penanganan karhutla di wilayah Desa Batuah guna mencegah api meluas ke kawasan lainnya.
(Tbk)