KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup satwa liar.

Sejumlah satwa dilaporkan ditemukan mati akibat terbakar maupun terpapar asap pekat.

Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan jumlah satwa liar yang mati akibat karhutla hingga saat ini belum dapat diketahui secara pasti.

Namun, berdasarkan laporan yang diterima, jumlahnya sudah mencapai belasan ekor.

“Untuk jumlah satwa liar yang mati, tidak diketahui secara pasti. Kalau yang dilaporkan, jumlahnya masih belasan ekor,” kata Muriansyah, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, jumlah tersebut diperkirakan masih jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Sebab, sebagian satwa, khususnya ular, memiliki habitat di dalam tanah sehingga bangkainya sulit ditemukan setelah terjadi kebakaran.

“Tapi kami yakin yang mati lebih banyak dari yang ditemukan warga maupun regu pemadam. Karena ular bersarang di dalam tanah. Bisa saja ular mati di dalam tanah,” ujarnya.

Muriansyah menjelaskan, berdasarkan temuan petugas maupun laporan dari regu pemadam setelah melakukan pemadaman karhutla, satwa liar yang paling sering ditemukan mati terbakar adalah jenis ular.

Beberapa jenis ular yang ditemukan antara lain sanca kembang atau sanca batik (Malayopython reticulatus), sanca depung (Python breitensteini), serta jenis ular berbisa seperti cobra dan king cobra.

“Yang banyak kami temukan dan juga dari laporan regu pemadam, setelah pemadaman, satwa liar yang sering ditemukan mati terbakar adalah jenis ular,” ungkapnya.

Selain reptil, karhutla juga berdampak terhadap berbagai jenis burung atau aves.

Kondisi tersebut terutama mengancam burung yang masih anakan dan belum mampu terbang.

“Selain jenis ular atau reptil, jenis burung atau aves juga terdampak langsung. Ini juga dilaporkan warga, terutama jenis anakan burung. Mereka tidak bisa terbang, akhirnya terbakar atau mati terpapar asap,” jelas Muriansyah.

BKSDA mengingatkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa liar tidak hanya terlihat dari satwa yang ditemukan mati.

Banyak satwa lainnya yang kemungkinan terluka, kehilangan habitat, maupun terpaksa berpindah akibat rusaknya kawasan tempat mereka mencari makan dan berlindung.
(Tbk)