
KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – SMAS PGRI 2 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menjadi satu-satunya sekolah di Kotim yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) kerajinan rotan.
Program ini ditujukan untuk membekali siswa dengan keterampilan alternatif, khususnya bagi siswa yang berasal dari keluarga eks pekerja logging.
Kepala SMAS PGRI 2 Sampit, H.M. Yardi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya sekolah dalam memberikan keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan siswa di masa depan.
“Ekstrakurikuler kerajinan rotan ini kami hadirkan terutama bagi siswa anak eks logger, agar ke depannya mereka memiliki keahlian alternatif yang memanfaatkan kekayaan alam secara bijak,” ujar Yardi, Jum’at (10/4/2026).
Menurutnya, potensi sumber daya alam di wilayah Kotawaringin Timur, khususnya rotan, perlu dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diajarkan teknik kerajinan, tetapi juga nilai-nilai pelestarian lingkungan.
Selain itu, program tersebut juga mendapat dukungan penuh dari pihak swasta.

“Kami sepenuhnya didukung oleh PT Rimba Makmur Utama (RMU), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang restorasi ekosistem,” tambahnya.
“Dengan adanya dukungan tersebut, diharapkan kegiatan ekstrakurikuler kerajinan rotan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi siswa, baik dari sisi keterampilan maupun peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Zona Seranau PT RMU, Yohanes Taka, menyampaikan melalui kegiatan ekstrakurikuler anyaman rotan yang didukung PT RMU ini sekolah tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal yang telah hidup turun-temurun di tanah mereka.
Ia menuturkan, setiap simpul yang terikat dalam anyaman rotan mengandung cerita tentang tradisi, kesabaran, serta kebanggaan akan identitas daerah.
“Anak-anak pun diajarkan bahwa rotan bukan sekadar bahan alam, melainkan warisan berharga yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujar Taka.
“Dari ruang belajar sederhana tersebut, tumbuh harapan agar generasi muda terus mengenal, mencintai, dan kelak menjaga budaya anyaman rotan sebagai bagian dari jati diri daerahnya,” tukasnya.
(Tbk)


Tinggalkan Balasan