KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan potensi kekeringan mulai terasa pada akhir Juli 2026.

Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memunculkan dilema dalam pembagian sumber daya antara distribusi air bersih kepada masyarakat dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kotim, Multazam, mengatakan tanda-tanda meningkatnya kebutuhan air bersih sudah mulai terlihat di sejumlah wilayah.

“Posisi di awal bulan Juli ini sudah terasa sekali. Nantinya akan ada pilihan, air bersih apa air pemadaman,” ujar Multazam, Sabtu (25/7/2026).

Ia berharap kejadian karhutla di Kotim tetap terkendali sehingga BPBD masih memiliki kapasitas untuk membagi kekuatan dalam mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Mudah-mudahan karhutla terkendali, sehingga kami bisa membagi kekuatan untuk distribusi air bersih,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut memiliki konsekuensi tersendiri apabila kebakaran meluas dan kebutuhan air bersih masyarakat meningkat secara bersamaan.

Karena itu, BPBD berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar desa dapat membantu penyediaan air bersih melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Multazam mencontohkan Desa Bagendang Tengah yang telah memiliki sumur bor dalam hasil dukungan CSR pihak ketiga.

Berdasarkan laporan pada pertemuan persiapan menghadapi bencana karhutla dan kekeringan pada Mei-Juni 2026, fasilitas tersebut masih berfungsi dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, BPBD juga telah menerima laporan dari warga Desa Tanah Putih terkait kesulitan memperoleh air bersih di salah satu dukuh.

Setelah dilakukan pengecekan, laporan tersebut dipastikan berasal dari warga yang memang berdomisili di lokasi dimaksud.

Menurut Multazam, untuk sementara sebagian masyarakat masih dapat mengandalkan air isi ulang.

Namun, solusi tersebut dinilai belum tentu dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

Ia menekankan perlunya perhatian khusus terhadap kelompok rentan seperti lanjut usia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, serta anak-anak yang sangat membutuhkan akses air bersih yang aman.

Selain itu, ia mengingatkan agar air isi ulang yang dikonsumsi masyarakat dipastikan diproduksi sesuai standar kesehatan dan ketentuan yang berlaku, sehingga aman untuk dikonsumsi.

BPBD Kotim terus memantau perkembangan kondisi kekeringan dan karhutla serta mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah desa, perusahaan, dan masyarakat, untuk bersama-sama mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan semakin meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
(Tbk)