KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Tim Posko Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berhasil memadamkan kebakaran lahan seluas sekitar 2 hektare di kawasan Jalan Amin Klaru, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (30/7/2026).
Tim menerima informasi adanya kebakaran melalui grup WhatsApp BPBD pada pukul 12.27 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 13.15 WIB. Operasi pemadaman dan pendinginan berlangsung hingga pukul 17.10 WIB.

Berdasarkan laporan lapangan, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 3 hektare, sementara sekitar 2 hektare berhasil dipadamkan.
Lokasi kebakaran berada di kawasan kebun sawit dan semak belukar dengan jenis tanah gambut serta tipe kebakaran gambut atas.
Dalam operasi tersebut, personel gabungan terdiri dari anggota BPBD, TNI, Polri, PMI, unsur Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kelurahan Ketapang, serta masyarakat setempat.
Mereka mengerahkan berbagai sarana dan prasarana, antara lain satu unit kendaraan roda tiga (tossa), satu unit kendaraan pikap, empat sepeda motor, 16 roll selang, dua nozzle, dua mesin alkon, serta sekitar 15 liter BBM Pertamax untuk mendukung proses pemadaman.
Diperkirakan sekitar 122 ribu liter air digunakan selama proses pemadaman.

Sumber air diambil dari Sungai Amin Klaru yang berjarak sekitar 300 meter dari titik api, sedangkan lokasi kebakaran berada sekitar 5 kilometer dari Posko Karhutla.
Tim melakukan upaya pemadaman disertai pendinginan guna mencegah api kembali menyala dan meluas.
Meski demikian, petugas menghadapi kendala karena jalur api mengitari kawasan semak belukar sehingga menyulitkan proses penanganan.
Operasi diawali setelah tim menerima laporan adanya kebakaran lahan di Jalan Amin Klaru.

Selanjutnya, personel bergerak menuju lokasi dengan perlengkapan pelindung diri (APD) lengkap untuk melakukan pemadaman dan pendinginan hingga situasi dinyatakan terkendali.
Hingga operasi berakhir, kondisi di lokasi dilaporkan api telah padam, namun masih terdapat beberapa titik yang mengeluarkan asap, sehingga tetap memerlukan pemantauan guna mengantisipasi munculnya kembali titik api.
(Tbk)


Tinggalkan Balasan