KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Bahkan, personel di luar regu turut dikerahkan untuk membantu penanganan di lapangan.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kotim, Multazam, mengatakan jumlah personel dan pengendali lapangan yang tersedia harus disesuaikan dengan kondisi serta tingkat kejadian karhutla di lapangan.

“Pasukan dan pengendali lapangan kalau kita bilang cukup dan tidak cukup itu relatif pada situasi kejadian di lapangan,” kata Multazam, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kondisi karhutla yang terjadi saat ini cukup luar biasa sehingga BPBD harus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia. Bahkan, personel nonregu juga dikerahkan ketika situasi membutuhkan tambahan tenaga.

“Kalau seperti kejadian karhutla saat ini sampai nonregu pun kita hadirkan,” ujarnya.

Selain mengerahkan personel, BPBD Kotim juga mendapat dukungan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk membantu menyuplai air ke lokasi-lokasi kebakaran yang telah ditentukan.

“Saat ini OPD juga sudah membantu kami supply air ke lapangan, ke lokasi-lokasi yang kita tetapkan,” jelasnya.

Multazam mengungkapkan, kondisi penanganan karhutla pada 2026 jauh lebih berat dibandingkan 2023.

Kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga telah menjangkau kawasan pelosok dengan akses yang cukup sulit.

“Tahun 2023 kami tidak sampai begini, tapi di 2026 ini memang kondisi di lapangan sangat luar biasa,” ungkapnya.

Menurut Multazam, salah satu kendala utama petugas adalah akses menuju lokasi serta ketersediaan sumber air. Tidak semua lokasi kebakaran memiliki sumber air yang mudah dijangkau petugas.

“Kebakaran ini tidak hanya terjadi di kota, tapi sudah ke pelosok yang aksesnya sulit dan belum tentu air di lokasi kebakaran itu tersedia,” katanya.

Ia menambahkan, proses pemadaman di satu titik kebakaran lahan juga dapat berlangsung cukup lama. Dalam kondisi tertentu, api dapat ditangani hingga berjam-jam karena karakter lahan dan kondisi di lapangan.

“Kalau kebakaran lahan bisa berdurasi hingga sembilan jam di satu titik saja,” ujarnya.

Untuk mengatasi kendala ketersediaan air, bantuan suplai menggunakan profil tank dinilai cukup efektif. Namun, penggunaannya tetap disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi lokasi kejadian.

“Bantuan suplai air melalui profil tank itu cukup efektif, namun tentunya sesuai kebutuhan di lapangan,” jelas Multazam.

Di tengah meningkatnya kejadian karhutla, BPBD Kotim saat ini menerima rata-rata sekitar 30 laporan per hari. Setiap laporan tersebut pada dasarnya membutuhkan respons dan penanganan petugas.

“Saat rata-rata laporan karhutla yang masuk ke kami ada 30 per hari, dan semua minta dilayani,” ungkapnya.

Karena itu, Multazam berharap masyarakat turut mengambil peran dalam membantu upaya penanggulangan karhutla.

Menurutnya, penanganan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.

“Kami berharap peran masyarakat juga untuk membantu petugas di lapangan. Bencana ini bukan hanya urusan pemerintah, namun juga semua pihak,” pungkasnya.
(Tbk)