KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Persoalan air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), infrastruktur jalan, hingga kebutuhan pembangunan fasilitas kesehatan menjadi aspirasi utama masyarakat dalam reses perseorangan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) daerah pemilihan (Dapil) Kalteng II, Sutik.
Reses tersebut dilaksanakan di RT 67/RW 04, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Selasa (25/8/2026).
Dalam kegiatan itu, Sutik didampingi Anggota DPRD Kotim, Cindy Maulidtika Yunifa.
Sutik mengatakan, kegiatan reses telah dilaksanakan di enam lokasi. Dari hasil kunjungan tersebut, persoalan yang paling banyak disampaikan masyarakat berkaitan dengan dampak musim kemarau, terutama sulitnya memperoleh air bersih dan meningkatnya ancaman karhutla.
“Untuk saat ini saya sudah mengunjungi enam tempat reses. Rata-rata keluhannya karena musim kemarau, yakni karhutla. Ada juga di Desa Telaga Baru yang mengeluhkan masalah air karena banyak sumber mata air yang mengering,” kata Sutik.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera turun tangan membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.
Menurutnya, persoalan kebutuhan dasar tersebut harus segera ditangani agar tidak menimbulkan persoalan sosial di tengah masyarakat.

“Mudah-mudahan pemerintah daerah setempat bisa menolong. Jangan sampai masyarakat ribut gara-gara kekurangan air,” ujarnya.
Selain persoalan air bersih dan karhutla, Sutik juga memberikan dukungan terhadap rencana pembangunan Puskesmas baru di Kecamatan MBK.
Menurutnya, pembangunan fasilitas kesehatan tambahan sangat diperlukan karena luasnya wilayah pelayanan dan tingginya jumlah masyarakat yang harus dilayani.
“Saya sepakat dan sangat mendukung program untuk Kecamatan Mentawa Baru Ketapang ini ada tambahan pembangunan Puskesmas karena memang agak jauh jaraknya. Nanti saya juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan bagaimana caranya agar pembangunan Puskesmas baru di Kecamatan MBK ini terealisasi,” jelasnya.
Sutik menyadari kondisi anggaran pemerintah saat ini masih menghadapi berbagai efisiensi, termasuk anggaran yang berkaitan dengan dana desa.
Kendati demikian, ia berharap pembangunan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat tetap dapat dilakukan secara bertahap.
Ia menambahkan, persoalan jalan dan air bersih juga menjadi aspirasi yang dominan disampaikan warga selama dirinya melaksanakan reses.
“Rata-rata masyarakat yang saya kunjungi ini keluhannya adalah jalan. Kemudian banyak juga yang mengeluhkan air bersih susah didapat karena sumurnya juga kering,” ungkapnya.
Menghadapi kondisi kemarau yang meningkatkan potensi karhutla, Sutik mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah.

“Karena sekarang rawan kebakaran, jangan sampai membakar lahan, kemudian jangan membakar sampah. Kita harus benar-benar menjaganya bersama-sama. Kalau keluar rumah, tolong peralatan listrik dicabut,” imbaunya.
Sementara itu, Camat MBK Irfansyah mengatakan pembangunan Puskesmas baru dinilai cukup mendesak. Saat ini, Puskesmas Ketapang II melayani masyarakat dalam jumlah cukup besar.
“Pelayanan di Puskesmas Ketapang II itu hampir mencapai 61.000 jiwa, terdiri dari enam desa dan dua kelurahan. Tentunya dengan pelayanan tersebut banyak masyarakat yang sedikit mengeluhkan karena setiap hari antre dan tenaga medisnya juga tidak sesuai dengan kapasitas jumlah penduduk,” kata Irfansyah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah kecamatan mengusulkan pembangunan Puskesmas Ketapang III yang nantinya melayani masyarakat di wilayah selatan.
“Karena itu kami menginginkan pembangunan Puskesmas Ketapang III yang melayani enam desa. Titik dan tanahnya kemarin sudah ada, yaitu di Desa Eka Bahurui, di samping Pos Pemadam Kebakaran. Puskesmas ini untuk melayani wilayah selatan,” jelasnya.
Irfansyah juga menyampaikan kondisi karhutla masih menjadi perhatian serius di Kecamatan MBK. Hingga saat ini, pihaknya mencatat sekitar 80 titik kebakaran di wilayah tersebut.
“Untuk titik kebakaran sampai saat ini sudah ada 80 titik, baik itu yang sangat parah, di antaranya di Pelangsian dan baru-baru ini di Desa Telaga Baru,” ungkapnya.
Menurutnya, salah satu kendala dalam penanganan karhutla adalah keterbatasan sumber air. Sejumlah sungai mulai mengering sehingga petugas harus mencari sumber air yang lokasinya lebih jauh dari titik kebakaran.

“Kendala kita adalah penyediaan sumber mata air yang sangat sulit. Sungai sudah kosong dan armada yang disiapkan pemerintah seperti suplai air untuk mencapai titik-titik terjauh tadi aksesnya susah dan terlalu lama kalau ke sana,” ujarnya.
Irfansyah berharap musim kemarau segera berakhir sehingga ancaman karhutla dan kesulitan mendapatkan air bersih dapat berkurang.
“Semoga kemarau ini cepat berlalu, jangan sampai berlama-lama. Insyaallah kita selalu standby memadamkan api dan menjaga lingkungan,” pungkasnya.
Ketua RT 67/RW 04, Surono, menyambut baik pelaksanaan reses tersebut. Menurutnya, warga mendapat kesempatan untuk menyampaikan langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi.
“Banyak aspirasi yang disampaikan warga kami kepada Pak Sutik. Semoga aspirasi kami ini bisa didengar oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Ia berharap hasil reses tersebut tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui program pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
(Tbk)


Tinggalkan Balasan