SAMPIT, MEDIATNI-POLRI.ID – Keluarga besar Thong di Kalimantan Tengah menyampaikan harapan agar Thong Hu Lie alias Helianto bersama istrinya, yang menjadi penumpang KM Virgo Transport 8 dan hingga kini belum ditemukan, masih dalam keadaan selamat.
Harapan tersebut disampaikan Dias Manthongka, SH, MH, yang mewakili keluarga besar Thong.
Ia menjelaskan, dirinya dibesarkan oleh orang tua angkat Thong Sin Cong (alm), yang memiliki saudara Thong Sing Long di Samuda, serta Thong Simpang (alm) yang dimakamkan di pemakaman Muslimin Sampit.
Dias mengatakan, Helianto juga masih memiliki saudara yaitu Thong Asan di Samuda, Thong Hu Cen di Banjarmasin, dan Thong Hilen. Bahkan, ibu dari keluarga tersebut hingga kini masih hidup dan diperkirakan berusia sekitar 90 tahun.
“Atas izin abang saya, Thong Hu Cen, yang saat ini berada di Banjarmasin, saya menyampaikan informasi ini atas nama keluarga besar,” ujar Dias, yang juga merupakan pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim, Gerdayak Kotim, Penyang Sahawung dan Laskar Prabowo Kotim ini, Kamis (17/9/2026).
Menurut Dias, dirinya dan Helianto pernah sama-sama tinggal di Samuda sekitar tahun 1990-an. Saat itu, keduanya masih remaja dan sempat berkumpul bersama keluarga.
Dias menuturkan, pada masa tersebut dirinya bekerja di bidang kontraktor sebagai pengawas. Sementara Helianto juga pernah terlibat dalam pekerjaan kontraktor sebelum kemudian menjalani usaha sebagai pedagang.
“Kontak terakhir saya dengan beliau (Helianto), kalau tidak salah pada 6 Agustus 2026, itu hanya untuk urusan keluarga,” katanya.
Dias mengaku terkejut ketika mengetahui dari pemberitaan media bahwa Helianto bersama istrinya menjadi salah satu penumpang KM Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan pelayaran.
Setelah mengetahui kabar tersebut, ia kemudian menghubungi pihak keluarga dan mendapatkan konfirmasi bahwa Helianto dan istrinya memang berada di kapal tersebut.
Dias mengatakan, keluarga hingga saat ini terus berharap dan berdoa agar Helianto, istrinya, serta penumpang lain yang belum ditemukan dapat ditemukan dalam keadaan selamat.
“Kita tetap berpikir positif. Bisa saja terjadi hal-hal di luar dugaan, misalnya mereka ditolong nelayan menggunakan sampan atau berada di tempat yang tidak ada sinyal,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi komunikasi juga menjadi salah satu kemungkinan yang membuat korban selamat sulit menghubungi keluarga.
Telepon seluler bisa saja rusak atau tidak memiliki jaringan sehingga mereka tidak dapat segera memberikan kabar.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari Thong Hu Cen yang berada di Banjarmasin, Helianto dan istrinya diketahui melakukan perjalanan ke Kalimantan untuk menghadiri acara perkawinan keluarga.
Semula, keduanya berencana menggunakan pesawat. Namun, karena kondisi kabut yang mengganggu sejumlah penerbangan, mereka kemudian memilih menggunakan kapal.
Sebelum kecelakaan terjadi, Helianto sempat beberapa kali menghubungi keluarganya. Menurut penuturan Thong Hu Cen, saat itu dirinya sempat tertidur sehingga tidak langsung menjawab panggilan tersebut.
Sekitar pukul 01.00 WIB, komunikasi akhirnya tersambung. Dalam percakapan tersebut, Helianto menyampaikan bahwa kondisi kapal dalam keadaan miring dan meminta agar informasi tersebut disampaikan kepada keluarga lainnya.
“Itu kontak terakhir yang disampaikan,” kata Dias, mengutip informasi dari Thong Hu Cen.
Dias menegaskan, keluarga terus berharap adanya keajaiban bagi Helianto, istrinya, dan penumpang lainnya yang hingga kini belum ditemukan.
“Kita tetap berdoa, mudah-mudahan ada mujizat yang luar biasa. Kami berharap keluarga tetap bersabar dan tabah. Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan adalah membantu melalui doa,” tuturnya.
Ia juga berharap Tim SAR dan pemerintah melalui otoritas terkait dapat terus bekerja secara maksimal dalam menangani kecelakaan pelayaran tersebut, termasuk melakukan pencarian terhadap seluruh penumpang yang masih belum ditemukan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan keterangan salah satu narasumber, musibah tersebut terjadi di wilayah perairan Laut Masalembo.
Narasumber mengungkapkan bahwa dirinya pernah tinggal di wilayah Masalembo selama kurang lebih enam tahun, yakni sejak 1987 hingga 1993.
“Kebetulan saya pernah tinggal di daerah Masalembo selama enam tahun, dari tahun 1987 sampai 1993,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di sekitar Pulau Masalembo terdapat dua pulau kecil, yakni Pulau Masa Kambing dan Pulau Karamaian.
Sementara di sebelah timurnya terdapat sembilan pulau kecil yang dikenal dengan sebutan Pulau Sembilan.
“Pulau Sembilan ini berdekatan dengan wilayah Kotabaru,” jelasnya.
Menurutnya, ada kemungkinan penumpang yang hingga kini belum ditemukan terbawa arus laut dan kemudian terdampar di salah satu pulau kecil tersebut.
Kondisi sejumlah pulau yang minim jaringan komunikasi juga dinilai dapat menjadi kendala apabila para korban membutuhkan pertolongan atau hendak menghubungi pihak lain.
“Siapa tahu penumpang yang belum ditemukan hanyut terbawa arus laut dan terdampar di pulau-pulau kecil tersebut. Kemungkinan sampai sekarang tidak ada sinyal sehingga sulit untuk berkomunikasi melalui telepon,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh penumpang yang masih belum ditemukan dapat segera diketahui keberadaannya dan mendapatkan pertolongan.
“Mudah-mudahan semua penumpang yang belum ditemukan mendapat mukjizat dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin,” tukasnya.
(Tbk)


Tinggalkan Balasan