KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan mulai aktif pada pertengahan 2026 dan berpotensi menyebabkan musim kemarau yang lebih kering serta berlangsung lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik telah melampaui ambang netral dan mengindikasikan penguatan fenomena El Nino.
Dalam konferensi pers, Ardhasena menjelaskan bahwa BMKG memprediksi El Nino akan terus berkembang dan bertahan hingga awal 2027.
Peluang fenomena tersebut mencapai kategori moderat diperkirakan sebesar 98 persen, sementara peluang mencapai kategori kuat mencapai 92 persen.
“BMKG memprediksi bahwa fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujarnya.
Dampak utama El Nino diperkirakan berupa penurunan curah hujan selama musim kemarau. Kondisi ini memperkuat prediksi bahwa musim kemarau 2026 akan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan pemutakhiran prediksi BMKG, sebanyak 482 zona musim atau 56,18 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau dengan sifat di bawah normal, atau lebih kering dari biasanya.
Sebaliknya, hanya tujuh zona musim yang diprediksi mengalami kondisi lebih basah dari normal.
Tidak hanya lebih kering, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih lama.
BMKG mencatat sebanyak 437 zona musim atau 48,77 persen wilayah Indonesia akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.
“Curah hujan yang turun selama periode musim kemarau 2026 diprediksi umumnya berkategori bawah normal atau lebih kering dari kondisi yang pada umumnya. Puncak musim kemarau diprediksi sebagian besar terjadi pada bulan Agustus dan durasi musim kemarau diprediksi lebih panjang dari normalnya,” kata Ardhasena.
BMKG juga memperkirakan musim kemarau datang lebih awal di sejumlah wilayah.
Sebanyak 308 zona musim atau 39,77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau yang lebih maju dibandingkan kondisi normal.
Pada Juni 2026, sekitar 198 zona musim atau 31,6 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau.
Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Jawa bagian barat dan tengah, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di 369 zona musim atau 48,84 persen wilayah Indonesia.
Daerah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada periode tersebut meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta pemerintah daerah serta berbagai pemangku kepentingan untuk segera menyiapkan langkah antisipasi, khususnya di sektor pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, kehutanan, dan kebencanaan.
Untuk sektor pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Sementara pada sektor kehutanan dan kebencanaan, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meningkat selama periode El Nino dan kemarau panjang.
Dengan prediksi tersebut, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang diperkirakan lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
(Tbk)


Tinggalkan Balasan