KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Perjuangan personel TNI dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, bersama dengan PT Rimba Makmur Utama (RMU) menghadapi berbagai tantangan berat.
Selain medan yang sulit dijangkau, keterbatasan sumber air dan ancaman kobaran api menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman.
Hal tersebut disampaikan Letda Inf Iskandar, Danramil 1015-03/Mentawa Baru Ketapang, yang didampingi Serda Farhan, Danru Batalyon TP 923/Mentaya, saat menjelaskan pelaksanaan tugas pemadaman karhutla di wilayah Desa Rawasari, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jum’at (9/10/2026).
Iskandar mengatakan, dirinya menerima surat perintah (sprint) untuk melaksanakan kegiatan tersebut pada 24 September 2026.
Setelah menerima perintah, personel langsung ditempatkan di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, sebelum melaksanakan tugas pemadaman di sejumlah lokasi yang terdampak kebakaran.
Ia menjelaskan, penugasan tersebut merupakan perintah langsung dari Dandim 1015/Sampit, Letkol Inf Dwi Candra Setyawan, S.I.P., untuk melakukan pemadaman di wilayah perbatasan Kecamatan Seranau dan Kecamatan Pulau Hanaut, khususnya di Desa Rawasari.
Menurutnya, lokasi kebakaran tergolong sulit dijangkau, baik melalui jalur darat maupun jalur sungai. Kondisi geografis yang berat, ditambah banyaknya sungai yang mengering serta kawasan hutan dan lahan yang telah terbakar, membuat personel harus menyusun strategi khusus agar dapat mencapai titik api.
“Wilayah tersebut sangat sulit dijangkau. Melalui jalur darat susah, melalui sungai juga tidak mudah karena banyak sungai yang sudah mengering,” ungkap Iskandar.
Untuk mencapai lokasi pemadaman, personel TNI bersama tim dari PT Rimba Makmur Utama (RMU) harus menempuh perjalanan panjang dengan membawa sendiri berbagai perlengkapan dan kebutuhan logistik.
Iskandar menuturkan, perjalanan dari pondok RSA menuju titik api memerlukan waktu sekitar dua hari satu malam dengan berjalan kaki.
Seluruh personel harus membawa perlengkapan masing-masing, mulai dari bahan makanan, air minum, bahan bakar, mesin pompa portabel, hingga peralatan pemadam kebakaran.
Kondisi di lokasi yang minim fasilitas membuat mereka harus benar-benar mempersiapkan kebutuhan secara mandiri sebelum berangkat.

“Bekal kami bawa sendiri-sendiri. Saya juga membawa mesin sendiri dan memanggulnya dari bawah sampai ke tempat tujuan. Semua anggota membawa barang masing-masing karena di sana tidak ada fasilitas yang melayani kebutuhan kami, baik makanan, minuman maupun perlengkapan lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, jarak menuju titik akhir pemadaman berdasarkan peta diperkirakan sekitar 7,5 kilometer melalui garis atau jalur yang ditampilkan. Namun, karena kondisi medan tidak memungkinkan untuk dilalui secara langsung, perjalanan melalui jalur sungai mencapai sekitar 13 hingga 14 kilometer.
Kondisi di kanan dan kiri jalur darat yang telah terbakar juga menjadi pertimbangan keselamatan bagi personel.
Sisa kebakaran berupa bara api dikhawatirkan dapat membahayakan apabila mereka memaksakan diri melintasi kawasan tersebut.
“Di kanan dan kiri jalur darat sudah terbakar. Kami khawatir jika melewati jalur itu, keselamatan personel juga terancam karena masih terdapat bara api,” katanya.
Selain medan yang berat, keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala terbesar dalam proses pemadaman karhutla di Desa Rawasari.
Iskandar menjelaskan, tim harus berupaya mencari dan mendapatkan air dengan menggali sejumlah titik di Sungai Hanaut yang kondisinya telah mengering.
Sungai yang seharusnya menjadi sumber air untuk pemadaman saat itu lebih menyerupai jalan karena tidak lagi memiliki aliran air yang memadai.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, personel melakukan penggalian di sejumlah titik agar air dapat terkumpul dan dimanfaatkan untuk pemadaman.
“Kalau tidak salah, ada sembilan titik yang kami gali. Airnya kami sedot, kemudian ditampung di embung. Setelah itu, air dipindahkan untuk membantu proses pemadaman api di kawasan hutan,” terangnya.
Upaya tersebut dilakukan agar kebutuhan air untuk pemadaman tetap terpenuhi di tengah kondisi kekeringan.
Tanpa sumber air yang memadai, proses penanganan kebakaran di kawasan tersebut akan semakin sulit dilakukan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan personel dan peralatan, tetapi juga strategi untuk mengatasi keterbatasan sumber daya di lapangan.
Dalam pelaksanaan tugas tersebut, personel TNI juga mendapat dukungan dari PT Rimba Makmur Utama (RMU).
Menurut Iskandar, dukungan perusahaan sangat membantu kelancaran operasi pemadaman, terutama dalam hal fasilitas, logistik, dan kebutuhan selama personel berada di lokasi.
Ia mengakui bahwa tanpa dukungan dari PT RMU, pelaksanaan tugas di wilayah yang sulit dijangkau tersebut akan menghadapi kendala yang lebih besar.
“Alhamdulillah, dukungan dari PT RMU luar biasa. Tanpa dukungan mereka, kami tidak bisa berbuat banyak karena kami hanya berjalan kaki menuju lokasi. Bekal, fasilitas, dan kebutuhan lainnya sangat terbantu dari PT RMU selama pelaksanaan pemadaman,” ujarnya.
Sinergi antara personel TNI dan pihak perusahaan menjadi salah satu faktor pendukung dalam upaya menangani kebakaran di wilayah terpencil.
Kerja sama tersebut diperlukan untuk memastikan personel dapat menjangkau titik api sekaligus mempertahankan pelaksanaan pemadaman di tengah keterbatasan medan dan logistik.
Iskandar menegaskan, personel TNI akan terus memantau perkembangan situasi karhutla di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.
Apabila kondisi di lapangan menunjukkan peningkatan kebutuhan penanganan, pihaknya siap menyesuaikan penempatan personel sesuai arahan komando.
“Kami akan mengikuti perkembangan situasi. Jika memang terjadi peningkatan dan dibutuhkan kehadiran kami di lokasi lain, personel siap digeser sesuai kebutuhan,” tegasnya.
Upaya pemadaman karhutla di Desa Rawasari menjadi gambaran beratnya tantangan yang dihadapi petugas di lapangan, mulai dari perjalanan panjang, keterbatasan logistik, ancaman bara api, hingga sulitnya memperoleh sumber air.
Dengan semangat pengabdian dan dukungan berbagai pihak, personel TNI bersama unsur terkait terus berupaya menangani kebakaran demi mengurangi dampak karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur.
(Tbk)

Tinggalkan Balasan