KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Salah satunya melalui pelatihan dan produksi tempe higienis yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk mengasah keterampilan pengolahan pangan sekaligus mempersiapkan bekal usaha setelah bebas nanti.

Program ini tidak sekadar menjadi kegiatan produktif selama menjalani masa pidana, tetapi juga sarana pembelajaran keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.

Melalui proses produksi tempe, warga binaan diperkenalkan pada tahapan pengolahan bahan pangan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha mandiri.

Proses pembuatan tempe di Lapas Sampit dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kebersihan selama pengolahan.

Asah Kemandirian - Asah Kemandirian, Warga Binaan Lapas Sampit Produktif Mengolah Kedelai Menjadi Tempe

Kegiatan dimulai dari pemilihan dan perendaman biji kedelai, kemudian dilanjutkan dengan perebusan hingga kedelai menjadi empuk dan siap dikupas.

Setelah itu, kedelai melalui proses pengeringan dan pemberian ragi sebelum dikemas secara higienis.

Setiap bungkus tempe memiliki berat sekitar 450 gram. Seluruh rangkaian produksi membutuhkan waktu kurang lebih empat hari hingga tempe siap dipasarkan atau dikonsumsi.

Melalui kegiatan tersebut, warga binaan tidak hanya mempelajari keterampilan teknis dalam mengolah kedelai menjadi produk pangan, tetapi juga dilatih menerapkan kedisiplinan, ketelitian, kerja sama tim, dan tanggung jawab selama proses produksi.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri warga binaan melalui hasil kerja yang nyata.

Keterampilan yang diperoleh menjadi salah satu bekal untuk membuka peluang usaha dan menjalani kehidupan yang lebih produktif setelah kembali ke tengah masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan antusiasme warga binaan dalam mengikuti program pembinaan tersebut.

Melalui pelatihan dan produksi tempe, Lapas Sampit berupaya memperkuat pembinaan kemandirian agar warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat setelah menyelesaikan masa pidana.

Bekal tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha, mendorong kemandirian ekonomi, serta mendukung proses reintegrasi sosial di masyarakat.

(Tbk)