KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, hingga Jumat (16/10/2026), belum mengganggu aktivitas penyeberangan feri di sejumlah dermaga.

Kepala UPTD Dermaga Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim, Agus Sunoto, S.Sos., mengatakan, hingga saat ini aktivitas penyeberangan feri rute Sampit-Seranau maupun di kawasan Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) masih berjalan normal seperti biasanya.

Meski demikian, pihaknya tetap meningkatkan pengawasan dan memberikan sosialisasi kepada para motoris serta nakhoda kapal untuk mengutamakan keselamatan dalam kondisi kabut asap.

“Alhamdulillah, penyeberangan feri Sampit-Seranau maupun di Pasar PPM masih berjalan normal. Setiap hari kami tetap melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada motoris serta nakhoda. Apabila sewaktu-waktu jarak pandang terlalu terbatas akibat kabut asap, waktu penyeberangan dapat ditunda demi keselamatan,” ujar Agus Sunoto, Jumat (16/10/2026).

Karhutla - Asap Karhutla Selimuti Sampit, Jarak Pandang untuk Penyeberangan Feri di Kotim Masih Aman

Ia menjelaskan, kondisi penyeberangan di wilayah selatan Kotim, seperti Samuda dan Basirih, juga masih berjalan normal.

Petugas di masing-masing lokasi tetap melaksanakan pengawasan secara rutin untuk memastikan aktivitas penyeberangan berlangsung aman.

Agus menyebutkan, berdasarkan kondisi pada Kamis (15/10/2026), jarak pandang di wilayah Sampit berkisar antara 200 hingga 300 meter.

Kondisi tersebut dinilai masih memungkinkan aktivitas penyeberangan berlangsung dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan.

Khusus untuk penyeberangan feri rute Sampit-Seranau, keberangkatan kapal diatur secara bergantian. Satu kapal diberangkatkan terlebih dahulu, kemudian disusul kapal berikutnya setelah kapal pertama berangkat.

“Pola keberangkatan secara bergantian ini dilakukan untuk mengantisipasi kondisi di tengah sungai, sehingga kapal tidak berpapasan secara bersamaan dan risiko dapat diminimalkan,” jelasnya.

Selain mengatur jadwal keberangkatan, pihaknya juga mengimbau para motoris dan nakhoda agar menyalakan lampu kapal, termasuk pada siang hari ketika kabut asap cukup tebal.

Penggunaan lampu sorot juga dianjurkan untuk membantu meningkatkan jarak pandang saat berlayar.

Menurut Agus, langkah tersebut penting agar keberadaan kapal dapat terlihat oleh kapal lain, terutama ketika berpapasan di tengah sungai dalam kondisi jarak pandang terbatas.

“Jika kabut asap tebal, kami mengimbau agar lampu kapal tetap dinyalakan, meskipun pada siang hari. Lampu sorot juga perlu digunakan agar kapal lebih mudah terlihat saat berpapasan,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengawasan rutin akan terus dilakukan di seluruh lokasi penyeberangan yang menjadi kewenangan UPTD Dermaga Dishub Kotim, termasuk dermaga Sampit-Seranau, Pasar PPM, Samuda, dan Basirih.

Melalui pengawasan dan imbauan tersebut, Dishub Kotim berharap aktivitas penyeberangan tetap berjalan lancar tanpa mengabaikan aspek keselamatan, khususnya di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla yang masih menyelimuti wilayah Sampit dan sekitarnya.
(Tbk)