KOTIM, MEDIATNI-POLRI.ID – Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha dinilai sangat penting dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut dan sulit dijangkau.

Hal tersebut disampaikan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Bambang Supiansyah, S.IP., M.Kes., saat melakukan kunjungan ke Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotim, Sabtu (15/8/2026).

Bambang mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi karhutla yang terjadi di wilayah Desa Batuah dalam beberapa hari terakhir.

“Kunjungan kami ini ingin melihat langsung kondisi di Desa Batuah yang dalam beberapa hari ini terjadi karhutla. Kondisinya cukup sulit karena terkendala sumber air dan medan yang sulit dijangkau,” ujar Bambang.

Menurutnya, akses menuju lokasi karhutla cukup sulit sehingga membutuhkan kendaraan khusus. Bahkan, unit kendaraan BPBD tidak dapat masuk langsung ke titik lokasi kebakaran.

Bambang mengungkapkan, sejak awal kejadian pada 3 Agustus 2026, upaya penanganan telah dilakukan oleh masyarakat melalui Masyarakat Peduli Api (MPA) bersama pihak PT Rimba Makmur Utama (RMU).

Ia mengapresiasi langkah yang telah dilakukan masyarakat dan perusahaan tersebut. Menurutnya, perencanaan penanganan yang dilakukan sudah cukup baik, meskipun kondisi alam dan perubahan arah angin menjadi salah satu kendala di lapangan.

“Perencanaannya saya lihat sudah bagus dan matang sekali. Namun, karena kondisi alam seperti ini dan angin juga berubah-ubah arahnya, sehingga penanganannya agak mengalami kesulitan,” jelasnya.

Bambang menekankan pentingnya kecepatan informasi dan pelaporan dini apabila masyarakat menemukan titik api.

BPBD, katanya, sangat mengharapkan peran aktif masyarakat maupun pemerintah desa untuk segera melaporkan setiap kemunculan titik api, sekecil apa pun, sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

“Kami sangat mengharapkan peran aktif masyarakat maupun pemerintah desa, terutama di Batuah, untuk segera melaporkan apabila menemukan titik api sekecil apa pun, sehingga penanggulangan bisa dilaksanakan lebih awal,” tegasnya.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar juga perlu terus ditingkatkan, terutama pada musim kemarau.

“Penggunaan kolaborasi kesiapsiagaan ini kami dari BPBD harapkan dapat berkelanjutan, baik dari pemerintah, masyarakat maupun dunia usaha,” katanya.

Bambang juga memberikan apresiasi kepada PT RMU yang telah membuat sekat kanal sebagai salah satu upaya menjaga kelembapan lahan gambut.

Menurutnya, keberadaan sekat kanal sangat penting untuk membantu menjaga lahan gambut tetap basah sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya kebakaran.

“Seperti contohnya dari PT RMU yang sudah membuat sekat kanal, itu sangat luar biasa dan BPBD sangat mengapresiasinya. Hal itu sebenarnya menjadi stimulan bagi masyarakat setempat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, sekat kanal dibuat untuk menjaga lahan gambut agar tetap terendam atau basah. Karena itu, masyarakat juga perlu mengetahui fungsi dan tata cara pembuatan sekat kanal yang tepat.

Bambang menambahkan, berdasarkan kondisi di lapangan, kedalaman kanal pada kawasan gambut tersebut sekitar 30–40 sentimeter.

“Setelah kunjungan lapangan ini kami akan menyampaikan laporan kepada pimpinan dan melakukan pembahasan terkait langkah penanganan selanjutnya,” ujarnya.

“Dari kunjungan ini kita mengetahui di lapangan apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan,” tambahnya.

Ia juga menilai upaya PT RMU selama ini sudah cukup baik, khususnya dalam memberikan dukungan kepada masyarakat.

Selain membantu penanganan, perusahaan tersebut secara berkala juga melaksanakan sosialisasi dan penyuluhan mengenai pengelolaan hutan dan lahan yang baik untuk mencegah munculnya titik api.

“Dari dulu pihak PT RMU telah bekerja sama dengan pihak kecamatan, mulai dari Kecamatan Pulau Hanaut hingga Seranau dan Cempaga terkait hal ini,” tukas Bambang.

Sementara itu, Kapten Inf Syaidin, Pasi Ops Kodim 1015/Sampit, yang turut dalam kunjungan, mengatakan kondisi karhutla di wilayah tersebut membutuhkan penanganan khusus.

“Dari kunjungan kami, saya melihat kondisi saat ini membutuhkan penanganan khusus, karena kondisi lahannya merupakan gambut yang cukup dalam, sehingga membutuhkan penanganan yang efektif,” katanya.

Ia menilai berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah setempat, masyarakat dan dunia usaha, khususnya PT RMU, sudah maksimal sesuai kemampuan di lapangan.

“Apa yang sudah dilakukan pemerintah setempat, masyarakat dan dunia usaha, dalam hal ini PT Rimba Makmur Utama (RMU), sudah berbuat semampunya. Namun, untuk penanganan lebih lanjut tentunya membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah,” pungkasnya.
(Tbk)